Analis Ramal IHSG Tertekan hingga 3 Persen di Awal Sesi Perdagangan Hari Ini
Jakarta, 4 April 2025 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan mengalami tekanan signifikan pada sesi pembukaan perdagangan hari ini. Sejumlah analis pasar modal memproyeksikan bahwa indeks dapat terkoreksi hingga 3 persen, seiring dengan menguatnya sentimen negatif dari pasar global serta meningkatnya tekanan eksternal terhadap aset berisiko.
Sentimen Global Menjadi Penekan Utama
Pelemahan bursa global, terutama dari Wall Street dan bursa Asia, menjadi salah satu faktor utama yang membayangi pergerakan IHSG. Kekhawatiran pasar terhadap kebijakan suku bunga tinggi yang lebih lama dari perkiraan sebelumnya—terutama dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed)—mendorong investor untuk melakukan aksi jual.
Selain itu, data ekonomi global terbaru menunjukkan perlambatan pertumbuhan manufaktur di sejumlah negara maju. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan prospek ekonomi jangka menengah, yang berdampak pada turunnya minat terhadap instrumen investasi berisiko, termasuk saham.
Nilai Tukar dan Harga Komoditas Turut Menekan
Dari dalam negeri, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut memberikan tekanan pada indeks. Rupiah yang sempat menembus level Rp16.000 per dolar AS menambah kekhawatiran akan tingginya biaya impor dan tekanan terhadap sektor industri berbasis ekspor-impor.
Di sisi lain, penurunan harga komoditas utama seperti batu bara dan minyak mentah turut memberikan sentimen negatif terhadap saham-saham emiten berbasis komoditas, yang selama ini menjadi kontributor utama penguatan IHSG.
Sektor yang Berpotensi Tertekan
Menurut pengamatan sejumlah analis, sektor-sektor yang berisiko mengalami koreksi paling dalam antara lain:
• Perbankan dan keuangan, akibat kekhawatiran terhadap kenaikan biaya dana.
• Energi dan pertambangan, yang terdampak penurunan harga komoditas global.
• Teknologi, karena cenderung sensitif terhadap suku bunga tinggi.
Sementara itu, sektor barang konsumen dan kesehatan diperkirakan relatif stabil, meskipun tetap tidak luput dari tekanan pasar secara umum.
Strategi Investor di Tengah Volatilitas
Para analis menyarankan investor untuk tetap mengutamakan kehati-hatian dalam mengambil keputusan investasi, terutama dalam kondisi pasar yang bergejolak seperti saat ini. Strategi seperti wait and see, diversifikasi portofolio, dan fokus pada saham-saham defensif dengan fundamental kuat menjadi langkah yang disarankan.
“Investor perlu mencermati momentum dengan cermat dan tidak terpancing oleh penurunan jangka pendek. Koreksi dapat menjadi peluang akumulasi pada saham-saham unggulan,” ujar seorang analis dari sekuritas terkemuka.
Tekanan terhadap IHSG hingga 3 persen pada awal sesi perdagangan hari ini merupakan respons pasar terhadap akumulasi sentimen negatif global dan domestik. Meskipun demikian, fluktuasi pasar adalah bagian dari dinamika yang wajar di pasar modal. Kedisiplinan dalam manajemen risiko dan pemilihan aset yang selektif menjadi kunci dalam menghadapi periode ketidakpastian ini.